PERBEDAAN GENDER DALAM PERUSAHAAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
Perkembangan dunia bisnis mendorong munculnya pelaku bisnis baru yang menimbulkan persaiangan cukup tajam di dalam dunia bisnis. Pelaku bisnis pada umumnya bertujuan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya agar dapat meningkatkan kesejahteraan pelaku bisnis dan memperluas jaringan usahanya. Namun terkadang untuk mencapai tujuan itu sering segala upaya dan tindakan dilakukan walaupun pelaku bisnis harus melakukan tindakan-tindakan yang mengabaikan berbagai dimensi moral dan etika dari bisnis.
Dalam era globalisasi yang penuh dengan persaingan, peran seseorang tidak lagi banyak mengacu kepada norma-norma kebiasaan yang lebih banyak mempertimbangkan faktor jenis kelamin, akan tetapi ditentukan oleh daya saing dan keterampilan. Pria dan wanita sama-sama berpeluang untuk memperoleh kesempatan dalam persaingan.
Sebenarnya, sampai saat ini kata gender belum masuk dalam pembendaharaan Kamus Besar Indonesia. Namun istilah tersebut sudah sangat lazim digunakan terutama oleh para intelektual dan peneliti di setiap diskusi dan tulisan sekitar perusahaan sosial dan pembangunan di dunia kerja. Demikian juga di Indonesia, hampir semua uraian tentang program pengembangan masyarakat maupun pengembangan di kalangan organisasi non pemerintah, memperbincangkan masalah gender, sehingga masalah gender kemudian menjadi bahan penelitian yang menarik.
Setiap individu itu unik. Tidak ada dua orang yang persis sama. Meski ada kesamaan dan kemiripan secara fisik, namun karakter atau kepribadian maupun perilakunya tidaklah sama. Perbedaan-perbedaan individual yang ada bukanlah hal yang mengejutkan. Perbedaan-perbedaan itu meliputi berbagai aspek, di antaranya terkait dengan sikap, perspesi dan kemampuan. Seseorang bisa dipengaruhi oleh orang lain, situasi, kebutuhan, dan pengalaman masa lalu. Studi mengenai perbedaan individual seperti sikap, persepsi, dan kemampuan dapat membantu seorang manajer dalam suatu organisasi untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan dalam tingkat kinerja karyawan.
Karyawan yang satu berbeda dengan yang karyawan yang lain dalam banyak hal. Seorang manajer perlu mengetahui bagaimana perbedaan seperti itu dapat mempengaruhi perilaku dan kinerja bawahannya. Perbedaan-perbedaan individual bisa saja membuat seorang individu itu berkinerja dengan lebih baik daripada individu lainnya. Perbedaan individual tidak lepas dari pengaruh lingkungan seperti pekerjaan, keluarga, komunitas dan masyarakat. Isu mengenai individual behavior and differences ini sangat penting dalam membahas masalah perilaku organisasi.
Perjuangan kesetaraan gender terkait dengan kesetaraan sosial antara pria dan wanita, dilandaskan pada pengaturan bahwa ketidaksetaraan gender disebabkan oleh diskriminasi struktural dan kelembagaan. Dan diskriminasi itu sendiri terjadi dari stereotipe (pelabelan negatif) terhadap jenis kelamin tertentu. Dalam masyarakat, banyak sekali stereotipe yang dilekatkan kepada kaum wanita yang berakibat membatasi dan merugikan kaum wanita untuk berkembang dan berkarir dalam persaingannya dengan kaum pria.
Alam sebuah lingkungan kerja, sikap atau perilaku individual sangat penting, karena sikap mempengaruhi perilaku kinerja seseorang. Terlebih lagi karena keberadaan perilaku stereotipe dalam lingkungan kerja ini sangat merugikan pegawai wanita. Karena adanya keyakinan masyarakat bahwa pria lebih aktif, lebih kompetitif dan lebih kuat dalam bekerja dibanding wanita. Selain itu, masyarakat menganggap bahwa pria adalah pencari nafkah maka setiap pekerjaan yang dilakukan wanita dinilai hanya sebagai tambahan dan oleh karenanya boleh dibayar lebih rendah. Hal tersebut juga sangat mempengaruhi motivasi kerja dan kepuasan kerja seorang pegawai terutama pegawai wanita.
Karyawan yang bergabung dalam sebuah organisasi harus menyesuaikan diri pada sebuah lingkungan baru, orang-orang baru, dan tugas-tugas baru. Bagaimana seseorang menyesuaikan dirinya dengan situasi dan orang lain utamanya tergantung pada kesiapan psikologisnya dan latar belakang personal. Beberapa wanita lebih baik dalam menjadi salespeople daripada beberapa pria. Sebaliknya, beberapa pria lebih baik dalam menjadi pemberi perhatian daripada beberapa wanita. Pencarian kemiripan dan perbedaan dalam gender tampaknya terus berlanjut karena mayoritas penelitian berbasis organisasi telah dilakukan dengan menggunakan sampel pria (Gibson et al.,2003).


1.2            Rumusan Masalah
1.     Apakah terdapat perbedaan tingkat motivasi antara karyawan pria dengan karyawan wanita?
2.     Adakah hubungan perbedaan gender dalam dunia kerja di Indonesia?

1.3            Tujuan Penelitian
1.     Untuk mengetahui tingkat motivasi antara karyawan pria dengan karyawan wanita.
2.     Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan gender dalam dunia kerja di Indonesia.







BAB II
TELAAH LITERATUR

2.1               Gender
Gender differences, Subhan (2004) menuliskan dalam artikelnya bahwa gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat, serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan, sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda, dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. Oleh karena itu, gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur, ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran, fungsi, tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk atau dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman.
Sementara itu, ada istilah lain yang dianggap banyak orang memiliki arti atau makna yang serupa dengan gender, yaitu seks. Padahal, kedua istilah ini memiliki makna yang berbeda. Seks (kodrat) adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. Seks merupakan property variable, yang bersifat given. Oleh karena itu, ia tidak dapat ditukar atau diubah. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala, sekarang dan berlaku selamanya (Subhan, 2004). Dengan demikian, perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah bahwa gender itu dapat berubah, dapat dipertukarkan, tergantung waktu, budaya setempat, dan bukan merupakan kodrat Tuhan, melainkan buatan manusia. Lain halnya dengan seks, seks tidak dapat berubah, tidak dapat dipertukarkan, berlaku sepanjang masa, berlaku dimana saja, di belahan dunia manapun, dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan (Subhan, 2004).


2.2                 Peran Gender
Peran gender merupakan peran laki-laki dan perempuan yang dikaitkan dengan status, lingkungan, dan budaya. Laki-laki memiliki tugas mencari nafkah, memimpin rumah tangga, melakukan pekerjaan kasar, memperbaiki atap, menggali sumur, dll. Perempuan mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, mencuci baju, dll. Peran laki-laki dan perempuan di atas adalah peran gender, yakni peran yang diharapkan dari seorang laki-laki dan perempuan karena budaya menghendaki demikian. Namun peran ini dapat berubah atau dipertukarkan pada lingkungan dan budaya yang berbeda. Oleh sebab budaya selalu berubah, demikian juga peran gender. Tahun 90-an, perempuan tidak ada yang boleh bekerja jadi sopir, saat ini mulai banyak sopir perempuan. Jaman dulu laki-laki tidak mengasuh anak dan tidak mencuci baju, saat ini laki-laki mengasuh anak dan mencuci baju. Boleh jadi, pada suatu saat nanti tidak akan ada lagi peran gender.
Masyarakat pada umumnya membedakan adanya sifat kepribadian tertentu yang dianggap khas milik perempuan dan sebagian yang lain khas miliki laki-laki. Sifat-sifat yang dianggap khas perempuan misalnya lemah lembut, bijaksana, cerewet, religius, peka terhadap perasaan orang lain, sangat memperhatikan penampilan, mudah menangis, tergantung atau kurang mandiri, dan memiliki kebutuhan rasa aman yang besar. Sifat-sifat yang khas laki-laki misalnya agresif, mandiri, kurang emosional, objektif, kurang peka terhadap perasaan orang lain, ambisius, dominan, logis, dan suka bersaing.
Boleh jadi sifat-sifat yang khas itu memang benar. Kekhasan itu muncul karena sejak kecil masing-masing jenis kelamin memang telah dididik untuk selaras dengan sifat-sifat itu. Misalnya saja agresivitas. Sejak kecil laki-laki dididik untuk agresif, perkelahian anak laki-laki lebih dimaklumi. Permainan mereka berkisar pada persaingan dan peperangan. Sebaliknya anak perempuan dididik kurang agresif. Mereka dilarang melakukan permainan agresif. Permainan yang diberikan pun bukan permainan agresif. Maka kemudian menjadi wajar jika laki-laki lebih agresif ketimbang perempuan.
2.3          Pengertian Kerja
                 Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bisa bermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan sering kali tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya, dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya kepada suatu keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sebelumnya.

2.4                 Motivasi
             Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan.
             Menurut Mulyasa (2003:112) motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Peserta didik akan bersungguh-sungguh karena memiliki motivasi yang tinggi.














BAB III
PEMBAHASAN

3.1        Perbedaan Motivasi Pria dan Wanita
3.1.1     Motivasi
             Definisi Secara etimologis, Winardi (2002:1) menjelaskan istilah motivasi (motivation) berasal dari perkataan bahasa Latin, yakni movere yang berarti menggerakkan (to move). Diserap dalam bahasa Inggris menjadi motivation berarti pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan.

3.1.2     Tingkatan Motivasi
             Tingkat Motivasi Menurut Irwanto (2002), tingkat motivasi terdiri dari:
1.     Tinggi Tingkatan motivasi tinggi berasal dari individu tanpa ada campur tangan dari luar misalnya harapan, cita – cita, perasaan, dan keinginan.
2.     Sedang Tingkatan motivasi sedang adalah motivasi yang berasal dari dalam diri individu dan dari luar individu misalnya kepuasan, tanggung jawab, dan status keuangan.
3.     Rendah Tingkatan motivasi rendah adalah motivasi yang berasal dari luar individu misalnya desakan orang tua, keinginan suami dan pengaruh teman.

3.2          Perbedaan Gender
               Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dilihat dari kata dasar “beda” yang berarti sesuatu yang menjadikan berlainan (tidak sama) antara dua benda. Perbedaan: selisih;permecahan itu disebabkan  paham. Masalah emansipasi dan perbedaan gender adalah suatu bahan perbincangan yang makin marak didengung-dengungkan oleh masyarakat pada masa kini.

3.2.1       Perbedaan Biologis
                   Perbedaan pria dan wanita banyak sekali, jika kita pikirkan, bukankan masuk akal kalau kita dibentuk secara berbeda, diluar dan didalam, secara fisik dan genetik, kita akan berkomunikasi secara beda.
3.2.2       Perbedaan Gaya Perilaku                                                            
                   Perbedaan biologis menerjemakan tentang perbedaaan gaya prilaku antara pria dan wanita. Alasan terjadinya kebingungan dan konflik akan lebih jelas bila kita melihat bagaiman gaya ini tidak hanya berbeda, tetapi juga saling berlawanan.

3.2.3       Perbedaan Karakter Pria dan Wanita
               Banyak orang berusaha untuk menghilangkan perbedaan hakiki antara lelaki dan wanita, terutama orang berusaha memperjuangkan persaman hak dan kewajiban; yaitu sebagai manusia wanita yang kedudukannya sebagai warga negara.

3.3          Perbedaan Gender Ditempat Kerja
                   Ada banyak sekali perdebatan mengenai perbedaan pria dan wanita dalam hal kinerja pekerjaan, absensi, dan tingkat perpindahan. Adapun debat mengenai kinerja pekerjaan bersifat inconclusive. Belum ada data meyakinkan yang menunjukkan bahwa pria lebih baik kinerjanya daripada wanita, ataupun sebaliknya. Satu-satunya area di mana ditemukan perbedaan yang agak konsisten antara pria dan wanita adalah mengenai absensi. Wanita memiliki tingkat absensi yang lebih tinggi karena biasanya ia menjaga dan mengurusi anak-anak, orang tua yang renta, dan pasangannya yang sakit, sehingga membuatnya absen dari pekerjaan (Farrell dan Stamm, 1983).
               Sulit untuk mengukur apakah perubahan-perubahan dalam masyarakat akan dapat menyebabkan pria dan wanita menjadi lebih serupa. Ketika masyarakat menekankan perbedaan gender dan memperlakukan pria dan wanita dengan cara yang berbeda, akan ada beberapa perbedaan dalam hal tersebut sebagai keagresifan dan perilaku sosial. Namun, ketika masyarakat lebih menekankan pada kesamaan kesempatan dan perlakuan, banyak perbedaan-perbedaan gender yang hilang seketika (Elvira dan Cohen, 2001).
               Dalam pandangan terhadap peran yang dimainkannya, pria dan wanita mempunyai pandangan yang berbeda. Teori peran gender menyatakan bahwa wanita lebih melihat perannya di keluarga sebagai bagian dari identitas sosial mereka, jika dibandingkan dengan pria (Bem, 1993; Gutek, Searle, & Klepa, 1991: Grandey, Cordeiro, & Crouter, 2005). Ketika peran wanita di tempat kerja semakin meningkat, harapan yang ditumpukan pada mereka dalam memainkan peran di keluarganya tidaklah hilang (Hochschild, 1999; Schor, 1991: Grandey, Cordeiro, & Crouter, 2005). Oleh karena itu, ketika pekerjaan mengganggu tuntutan-tuntutan di keluarga, wanita lebih cenderung mengembangkan sikap negatif terhadap pekerjaan dibandingkan dengan pria, karena pekerjaan dilihatnya lebih sebagai ancaman bagi peran sosial sentralnya (Grandey, Cordeiro, & Crouter, 2005).
                   Sebaliknya, masih menurut teori peran gender, pria cenderung tidak menggunakan informasi ini untuk membentuk sikap-sikap kerja karena mereka kurang mengalami ancaman bagi diri jika pekerjaan mengganggu waktu dengan keluarga. Namun, bukan berarti pria tidak mengalami ketidaksenangan dalam hal pekerjaan yang mengganggu keluarga, hanya saja persepsi mengenai pekerjaan yang mengganggu keluarga itu sedikit sekali mengarah pada atribusi menyalahkan karena gangguan tersebut kurang begitu merusak identitas sosialnya, dan oleh karenanya kurang menimbulkan ancaman bagi diri (Lazarus, 1991: Grandey, Cordeiro, & Crouter, 2005).
               Wren (2006) menyatakan bahwa dengan meningkatnya jumlah wanita yang memegang posisi profesional di tempat kerja, telah ada sejumlah studi yang meneliti perbedaaan gender di dalam organisasi. Beberapa penelitian telah memeriksa perbedaan gender dalam beberapa area seperti kepuasan kerja, motivasi kerja, perpindahan, tekanan peran, dan kinerja (Fogarty, et al 1998; Fugate, et al 1988; Gable & Reed 1987: Wren, 2006). Literatur yang ada mengenai perbedaan gender dalam kinerja telah menghasilkan berbagai macam hasil. Beberapa studi menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kinerja, reward, dan punishment, seperti dalam penelitian Rosenthal (1995), sementara studi lainnya menunjukkan tidak ada perbedaan yang esensial, seperti dalam penelitian Ritchie (1996). Wren (2006) berpendapat bahwa permasalahan pada penelitian yang telah ada ini adalah bahwa penelitian-penelitian tersebut berfokus pada apakah perbedaan kinerja itu eksis, tanpa meneliti isu mendasar seperti pengaruh gender pada self-evaluations versus supervisory performance evaluations, dan penggunaan reward dan punishment oleh supervisors. Studi-studi yang telah ada mengenai perbedaan gender mengindikasikan bahwa pada kenyataannya, ada kemungkinan bahwa gender membuat perbedaan dalam tindakan dan evaluasi tertentu dari supervisory.
               Salah satu kelemahan pengetahuan yang ada mengenai perbedaan gender di tempat kerja adalah bahwa banyak penelitian yang dilakukan dalam lingkungan laboratory atau buatan, seperti yang dikemukakan Rosenthal (1995). Banyak peneliti telah menggunakan pelajar atau partisipan yang disewa untuk berpartisipasi dalam lingkungan kerja yang disimulasi. Hanya sedikit penelitian yang dilakukan dalam sebuah setting organisasional yang aktual. Dengan semakin meningkatnya peran wanita sebagai bagian integral di tempat kerja, para manajer harus memeriksa ketergantungan mereka pada pandangan stereotipe yang terkait dengan wanita (Schul dan Wren, 1992: Wren, 2006). Jika perbedaan substansial benar-benar eksis antara pria dan wanita dalam hal evaluasi, reward, atau punishment, maka manajemen harus siap untuk menginisiasikan program yang memberikan kepemimpinan yang lebih efektif. Jika tidak, perlakuan konsisten harus dilakukan di antara pria dan wanita sehingga dapat mencegah penciptaan perbedaan gender yang tidak eksis dengan sendirinya (Bruning and Snyder 1983: Wren, 2006).
               Dalam hal kinerja, beberapa studi seperti Deaux (1979) dan Maccoby and Jacklin (1974) menemukan bukti yang mengindikasikan bahwa wanita mengimplementasikan harapan-harapan kinerja lebih rendah daripada pria, khususnya ketika sebuah tugas dilabeli ”maskulin”. Serupa dengan penelitian ini, Lenney (1977) juga menemukan bahwa pria cenderung to overstate mengenai kinerjanya sementara wanita cenderung to undervalue terhadap kontribusinya. Temuan dari penelitian yang dilakukan Wren (2006) konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa wanita memiliki perasaan ketidakpastian dan kepercayan diri yang rendah dalam beberapa tugas pekerjaan. Hal ini juga mendukung literatur sebelumnya yang menempatkan egoisme pada pria yang cenderung mengarah pada pandangan yang berlebihan terhadap kinerja mereka sendiri (Deaux 1979; Rosenthal, et al 1996).





















KESIMPULAN

               Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat, serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan, sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda, dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Dalam dunia pekerjaan, pasti ada pekerja pria dan wanita, disini yang akan menjadi tolak ukur bagaimana para pekerja ini melakukan pekerjaannya. Dalam hal pekerjaan, apa yang dilakukan oleh pekerja pria dan wanita pasti akan berbeda dari segi apapun, seperti absensi dan tingkat kepindahan. Akan tetapi pada pandangan peran, teori peran gender menyatakan bahwa wanita lebih melihat perannya di keluarga sebagai bagian dari identitas sosial mereka, jika dibandingkan dengan pria. Dan teori peran gender, pria cenderung tidak menggunakan informasi ini untuk membentuk sikap-sikap kerja karena mereka kurang mengalami ancaman bagi diri jika pekerjaan mengganggu waktu dengan keluarga.














DAFTAR PUSTAKA

1.     NUR HASANAH, Perbedaan Gender Ditempat Kerja
2.     Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, Vol. 10. 46 No. 1, Januari 2015
3.     Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol.15.1. April (2016): 1-16
4.      E-Jurnal Manajemen Unud, Vol. 4, No. 7, 2015
5.     Media Riset dan Bisnis Vol. 8, No. 2, Agustus 2008
                        

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penghindaran Pajak Pada PT. Bank Danamon Indonesia Tbk

PENGARUH PENERAPAN ETIKA BISNIS TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN STARBUCKS COFFEE

Pengaruh Etika Bisnis Terhadap Good Corporate Governance (GCG) PT. Bank Danamon Indonesia Tbk